EFORIA ATAUKAH SESUATU YANG GAGAL DIPAHAMI

Featured

Suatu esensi yang terangkum dan wajib untuk dipahami adalah : 

Brahman = parama atma = atman = jiwa atman.Brahman (parama atma) meresap dalam segala ciptaannya yang bersifat trasedent (Nirguna brahman)

Svetasvatara Up.VI.1
Eko devas sarva-bhutesu Gudas
sarva vyapi sarva bhutantar
atma karmadhyaksas sarva
Bhuta dhivasas saksi ceta
Kevalo irgunasca
Artinya : Tuhan yang tunggal berada pada semua makhluk, menyusupi segala, inti hidupnya semua makhluk, hakim semua perbuatan, yang berada pada semua makhluk, saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari kualitas apapun.
 
Bhuwanakosa II.16
Bhatara Siwa sira eyapaka,
sira suksma tar Kneng angen-angen,
kadyangganing akasa
Tan kagrhita de ning manah mwang indriya
Artinya : Bhatara Siwa, meresapi segala, Ia gaib tak dapat dipikirkan, Ia seperti angkasa tak terjangkau oleh pikiran dan indriya.
 
Mundaka Upanisad II.2
Divyo hy amurtah purusah sa
Bahyabyantaro hy ajah
Aprana hy amanah subhro aksarat
Paratah parah
Artinya : Tanpa bentuk dan bersifat Ilahi-lah makhluk ini, dia ada di luar dan di dalam, tiada dilahirkan, tanpa nafas dan tanpa pikiran, murni dan lebih tinggi dari yang kekal yang tertinggi.
 
Taittiriya Upanisad 2.1.1
Brahmavid apnoti param tad esa bhyukta
Satyam jnanam anantam Brahma Veda
Nihitam guhayah parame vyman so’ snute
Kaman vipascita iti
Artinya : Ia yang mengetahui Brahman sebagai kebenaran, pengetahuan dan tidak terbatas, Ia yang bersembunyi di dalam rongga hati dan Ia yang sangat jauh di angkasa. Ia yang terpenuhi segala keinginannya dalam kesatuan dengan Brahman, Ia yang maha mengetahui..

Brahman(paramatma), meresap dalam segala ciptaannya yang bersifat imanen(saguna brahman)

Svetasvatara Upanisad II.17
Yo devo’gnau yo’psu,
yo visvam bhuvanamavisesa,
Yo asadhisu yp vanaspatisu,
tasmai devaya namo namah
Artinya : Sujud pada Tuhan yang berada pada api, yang ada dalam air yang meresapi seluruh alam semesta, yang ada dalam tumbuh-tumbuhan yang ada dalam pohon-pohon kayu.
 
Bhuwanakosa III.76
Lwir Bhatara Siwa magawe jagat,
Brahma rupa siram pasrti jagat,
Wisnu rupa sira pangraksang jagat
Rudra Rupa nira mralayaken rat
Nahan tawaknica, bheda nama
Artinya : Adapun Tuhan membuat dunia, berwujud Brahma menciptakan dunia, berwujud Wisnu Beliau memelihara dunia, berwujud Rudra Beliau memusnahkan dunia, demikianlah tiga perwujudan Beliau (yang Tunggal) berbeda nama.
 
Wrhaspati Tattwa 11 – 12
Swayaparah siwah suryah caitta tattwah sadasiwah,
Sapadah saguna wyapi arupatwat pracaryate
Utpadako na sahakah tattsyanugraha parah,
Wirocanakaro nityah sarwajnah sarwakrdbibhuh
Artinya : Sadasiwa adalah Cetana (Tuhan) yang telah aktif (sawyaparah) telah berfungsi dan berkhasiat, (misalnya) suka menampuni (siwah), memberi sinar penerangan (suryah), dapat menjadi sekecil-kecilnya (wyapi), tiada berwujud (Arupa), dan menjadi obyek pujaan dari segala makhluk. Sebagai pencipta, pelebur (dan) memberkati. Karunia (Pemelihara) pada dunia raya, memberi sinar-cahaya (sebagai wokosana, serba tahu, maha kaya, ada dimana-mana (dan) kekal abadi.
 
Yajur Veda 32.1
Tad eva agnis tad adityas
tad vajur tad u candramah
tad eva sukran tad Brahma
ta apah tad prajapatih
Artinya : Agni adalah itu, Aditya adalah itu, Vayu adalah itu, Candramas adalah itu, Sinar adalah itu, Air juga adalah dia dan prajapati adalah dia.
 
Arti istilah Atma-Tattwa,
ialah kepercayaan mengenai atma. Atma disebut juga dengan istilah :
Ciwatma, Jiwatma, yang merupakan bagian kecil tak terukur (atom, anu, parama anu) dari Parama Atma (Brahman, Sang Hyang Widdhi).
“Brahman Atma Aikyam” (Brahman dan Atman adalah tunggal) demikianlah tersebut dalam kitab Upanisad.
 
Oleh karena Atman = Brahman, maka Atman kekal Abadi, achintya (tidak dapat dipikirkan) oleh pikiran manusia yang keadaannya terbatas. Jika Brahman (Parama Atma) dibandingkan dengan lautan, maka Atma ialah atomnya (molecule-molecule) air laut, yang tak terhitung jumlahnya.
Jika Brahman kita bandingkan dengan matahari, maka Atma ialah sinar-sinar yang dipancarkan oleh matahari ke segala penjuru, tak terhitung banyaknya.
Kalau kita menengadah ke angkasa, maka terlihatlah oleh mata kita butiran-butiran halus yang sangat kecil bergetar; dalam hal ini dapatlah kita bandingkan bahwa angkasa adalah Brahman (Parama Atma) sedangkan butiran-butiran atau titik halus yang bergetar ialah Atma-Atma yang tidak terhitung banyaknya Pada Kitab Aeteria Upanisad dijelaskan :   
“(Atma) adalah Brahman (Tuhan) pada diri manusia (Microcosmos, Bhuwana Alit) dan juga matahari (Macrocosmos) alam semesta yang mana sebenarpysa satu,
Atma adalah Brahman”. Jelaslah bahwa ‘Atma. (Ciwatma, Jiwatma) merupakan sumber hidup seluruh mahluk alam semesta (Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit).
Secara umum mengenai istilah Atma dapat dikemukakan sebagai berikut:
Parama Atma (Brahman) : Tuhan, Sang Hyang Widdhi; Atma Yang Agung.
Atma: Bagian dari pada Brahman (Parama Atma), yang mempunyai sifat-sifat sangat suksma (gaib). Sumber hidup bhuwana Agung dan Alit.
Ciwatma: Atma yang berasal dari Ciwa ; menjadi sumber hidup.
Jiwatma/Adhiyatma : Jiwa, dari akar kata Jiw, berarti hidup; Atma yang memberikan hidup pada diri manusia.
 
Dalam agama Hindu terdapat keyakinan bahwa ada “sesuatu yang sejati” dalam tiap individu yang disebut atman, sifatnya abadi atau tidak terhancurkan. Taittiriya-upanishad mendeskripsikan bahwa atman individu diselimuti oleh lima lapisan: annamayakosa (lapisan badan kasar yang mengandung daging dan kulit), pranamayakosa (lapisan tenaga kehidupan), manomayakosa (lapisan pikiran atau indera yang menerima rangsangan), wijanamayakosa (lapisan nalar, akal budi, atau kecerdasan), anandamayakosa (lapisan kebahagiaan atau tubuh kausal).
 
Istilah atman dan jiwa kadangkala dipakai untuk konteks yang sama. Dalam suatu pengertian, atman adalah Brahman, sedangkan jiwa adalah penggerak segala makhluk hidup. Menurut teologi Hindu yang monistis/panteistis (seperti mazhab Adwaita Wedanta), sukma individu sama sekali tiada berbeda dari Brahman. Sukma individu disebut jiwatman, sedangkan Brahman disebut paramatman. Maka dari itu, ajaran ini disebut aliran non-dualis.
 
Ketika tubuh individu hancur, jiwa tidak turut hancur. Sebaliknya, ia berpindah ke tubuh baru melalui reinkarnasi (samsara). Jiwa mengalaminya karena diselubungi oleh awidya atau “ketidaksadaran” bahwa dirinya sesungguhnya sama dengan Paramatman. Tujuan kehidupan menurut mazhab Adwaita adalah untuk mencapai kesadaran bahwa atman sesungguhnya sama dengan Brahman. Kitab Upanishad menyatakan bahwa siapa pun yang merasakan bahwa atman merupakan esensi dari tiap individu, maka ia akan menyadari kesetaraan dengan Brahman, sehingga mencapai moksa (kebebasan atau kemerdekaan dari proses reinkarnasi/samsara).
 
Yoga dari Resi Patanjali sebagaimana yang diuraikan dalam Yogasutra berbeda dengan monisme yang diuraikan dalam filsafat Adwaita. Menurut yoga, pencapaian spiritual tertinggi bukanlah untuk menyadari bahwa segala kemajemukan di alam semesta merupakan maya. Jati diri yang diperoleh saat mencapai pengalaman religius tertinggi bukanlah atman belaka. Itu hanyalah salah satu jati diri yang ditemukan oleh individu.
 
Meruntuhkan “tembok alam sadar manusia” untuk membangun “persatuan” jati diri individu (jiwatman) dengan sukma alam semesta (paramatman), merupakan tujuan praktik yoga.
 
Menurut pemahaman dualistis seperti mazhab Dwaita, jiwa merupakan entitas yang berbeda dengan Tuhan, namun memiliki kesamaan. Jiwa bergantung kepada Tuhan, sedangkan pencapaian moksa (lepas dari samsara) bergantung kepada cinta pada Tuhan serta kasih sayang Tuhan.
 
Atharwa Weda X.8.11
“Tat sambhuya bhavati ekam eva”
 
Brahman adalah inti alam semesta dan segalanya dilarutkan menjadi seragam dengan-Nya.
 
Reg Weda X.82.7
“Anyad yusmakam antaram babhuva”
Tuhan berada dalam hatimu.
 
Esa sarvestu bhutesu
gudho ‘tma na prakasate,
drsyate tvargyaya buddhya
suksmaya suksma darsibhih
(Katha Upanisad I.3.12)
Artinya :
          Atman yang bercahaya halus itu
          Ada dalam setiap mahluk
          Ia hanya dapat di lihat oleh para rsi
          Dengan budi yang tajam dan murni
Asabdam Asparsan Arupam Avyayam
tatha arasam nityam agandhavac ca yat
anady anantam mahatah param dhruvam
nicayya Tam Mrtyu Mukhat Pramucyate
(Katha Upanisad I.3.15)
Dari berbagai banyak sumber sastra sruti dan lontar dibali menyatakan bahwa :
BRAHMAN = ATMAN
PARAMATMAN = JIWATMAN
----------------------------------------------------------
Sekarang kitab sruti dan sloka hindu ditentang oleh kaum sesat HK, mengatakan sprt ini :
            Hare Krishna sangat menentang konsep Mayavadi yang menyatakan bahwa Tuhan adalah tidak berwujud yang disebut Nirguna Brahman dan akhirnya karena terjerat oleh Maya yang Dia ciptakan menjadi berwujud yang disebut Sarguna Brahman karena menurutnya, Tuhan Yang Maha Kuasa tidak mungkin terjerat oleh ciptaanNya sendiri.(inilah yang menentang sruti tentang brahman=atman).lalu bagaimana dengan wisnu turun kedunia sbg awatara, yang terjebak dalam material, lahir, menerima kutukan gandari, mati terpanah, dll).
             Meski lebih sering menyebut nama Tuhan dengan sebutan Krishna dan Rama, namun pengikut Hare Krishna tidak menolak nama Tuhan yang lain. Bahkan dikatakan nama suci Tuhan tidak terhingga jumlahnya. Visnu Sahasra Nama atau 1000 nama suci Tuhan sebagaimana disampaikan dalam Padma Purana dan juga Mahabharata Anushāsanaparva 149 menjadi salah satu panduan kebebasan pengikut Hare Krishna dalam menyebut nama Tuhan yang mereka sukai.( disini dapat dilihat kebohongan, dimana krisna adalah yang tertinggi dan tdk ada nama suci lain, mereka harus yakin kpd satu tuhan yakni krisna krna kresna adalah segalanya).
          Mengenai para dewa, ajaran Hare Krishna mengatakan bahwa Tuhan dan dewa berbeda. Para dewa adalah abdi Tuhan Yang Esa yang merupakan Jiva Tattva yang merupakan individu yang sama dengan mahluk hidup yang lain tetapi karena guna dan karma-nya mereka mendapatkan badan dan kedudukan seperti itu. Namun demikian, dalam beberapa posisi seperti kedudukan Brahma, Visnu dan Siva kadang kala juga diemban oleh Tuhan sendiri dalam aspeknya sebagai Tri Guna Avatara (Bhagavata Purana 1.2.23)…( dan ini sudah jelas sekali bertentangan dgn sruti terutama catur weda, indra, varuna, agni, aswin, dll adalah brahman sbg fungsi dan tugas sinar suci brahman dalam mantram mantram weda(dewa), dan kesqlahan besar adalah purana melangkahi otoritas tertinggi yakni sruti).
 
IB ARNAWA 
      Perbedaan antara Tuhan dan Atman dalam ajaran Hare Krishna sangat jelas. Hare Krishna menolak pendapat yang mengatakan bahwa Atman dan Brahman (Tuhan) itu sama. Tuhan adalah Tuhan dan Atman tetaplah Atman yang semuanya adalah individual terpisah yang secara kuantitas sama, tetapi secara kualitas berbeda. Konsep ajaran ini dipertajam oleh Sri Chaitanya Maha Prabhu sebagai salah satu acharya dalam garis perguruan Hare Krishna dengan filsafatnya yang sangat terkenal, yaitu “Achintya Bheda Abheda Tattva”. Sehingga atas dasar ini, ajaran Hare Krishna menolak asumsi yang mengatakan oleh karena kita adalah Atman yang sama dengan Brahman, maka suatu saat nanti jika sudah mencapai moksa maka kita akan menyatu dan menjadi Tuhan…. (sangat jelas sekali dalam upanisad utama selalu mengatakan brahman=atman,sruti sdh diobok obok dgn bahasa ngawur acintya beda beda, mungkin waktu makan gado-gado atau bahasa balinya srombotan mendapat ilham shg ada kata terucap acintya beda-beda)
    Ajaran Hare Krishna dengan tegas menolak konsep moksa yang menyatakan kita sebagai Atman sama dengan Tuhan dan suatu saat bisa menyatu dan menjadi Tuhan.
 
Jadi dari penjabaran ajaran di atas, terlihat bahwasanya ajaran “Hare Krishna 100% melecehkan kitab suci Veda sesuai statmen pendiri hk bahwa weda cabang cabang kering dan pengikut hindu yang tidak berguna”

Continue reading

Suatu esensi yang terangkum dan wajib untuk dipahami adalah : 

Brahman = parama atma = atman = jiwa atman.Brahman (parama atma) meresap dalam segala ciptaannya yang bersifat trasedent (Nirguna brahman)

Svetasvatara Up.VI.1
Eko devas sarva-bhutesu Gudas
sarva vyapi sarva bhutantar
atma karmadhyaksas sarva
Bhuta dhivasas saksi ceta
Kevalo irgunasca
Artinya : Tuhan yang tunggal berada pada semua makhluk, menyusupi segala, inti hidupnya semua makhluk, hakim semua perbuatan, yang berada pada semua makhluk, saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari kualitas apapun.
 
Bhuwanakosa II.16
Bhatara Siwa sira eyapaka,
sira suksma tar Kneng angen-angen,
kadyangganing akasa
Tan kagrhita de ning manah mwang indriya
Artinya : Bhatara Siwa, meresapi segala, Ia gaib tak dapat dipikirkan, Ia seperti angkasa tak terjangkau oleh pikiran dan indriya.
 
Mundaka Upanisad II.2
Divyo hy amurtah purusah sa
Bahyabyantaro hy ajah
Aprana hy amanah subhro aksarat
Paratah parah
Artinya : Tanpa bentuk dan bersifat Ilahi-lah makhluk ini, dia ada di luar dan di dalam, tiada dilahirkan, tanpa nafas dan tanpa pikiran, murni dan lebih tinggi dari yang kekal yang tertinggi.
 
Taittiriya Upanisad 2.1.1
Brahmavid apnoti param tad esa bhyukta
Satyam jnanam anantam Brahma Veda
Nihitam guhayah parame vyman so’ snute
Kaman vipascita iti
Artinya : Ia yang mengetahui Brahman sebagai kebenaran, pengetahuan dan tidak terbatas, Ia yang bersembunyi di dalam rongga hati dan Ia yang sangat jauh di angkasa. Ia yang terpenuhi segala keinginannya dalam kesatuan dengan Brahman, Ia yang maha mengetahui..

Brahman(paramatma), meresap dalam segala ciptaannya yang bersifat imanen(saguna brahman)

Svetasvatara Upanisad II.17
Yo devo’gnau yo’psu,
yo visvam bhuvanamavisesa,
Yo asadhisu yp vanaspatisu,
tasmai devaya namo namah
Artinya : Sujud pada Tuhan yang berada pada api, yang ada dalam air yang meresapi seluruh alam semesta, yang ada dalam tumbuh-tumbuhan yang ada dalam pohon-pohon kayu.
 
Bhuwanakosa III.76
Lwir Bhatara Siwa magawe jagat,
Brahma rupa siram pasrti jagat,
Wisnu rupa sira pangraksang jagat
Rudra Rupa nira mralayaken rat
Nahan tawaknica, bheda nama
Artinya : Adapun Tuhan membuat dunia, berwujud Brahma menciptakan dunia, berwujud Wisnu Beliau memelihara dunia, berwujud Rudra Beliau memusnahkan dunia, demikianlah tiga perwujudan Beliau (yang Tunggal) berbeda nama.
 
Wrhaspati Tattwa 11 – 12
Swayaparah siwah suryah caitta tattwah sadasiwah,
Sapadah saguna wyapi arupatwat pracaryate
Utpadako na sahakah tattsyanugraha parah,
Wirocanakaro nityah sarwajnah sarwakrdbibhuh
Artinya : Sadasiwa adalah Cetana (Tuhan) yang telah aktif (sawyaparah) telah berfungsi dan berkhasiat, (misalnya) suka menampuni (siwah), memberi sinar penerangan (suryah), dapat menjadi sekecil-kecilnya (wyapi), tiada berwujud (Arupa), dan menjadi obyek pujaan dari segala makhluk. Sebagai pencipta, pelebur (dan) memberkati. Karunia (Pemelihara) pada dunia raya, memberi sinar-cahaya (sebagai wokosana, serba tahu, maha kaya, ada dimana-mana (dan) kekal abadi.
 
Yajur Veda 32.1
Tad eva agnis tad adityas
tad vajur tad u candramah
tad eva sukran tad Brahma
ta apah tad prajapatih
Artinya : Agni adalah itu, Aditya adalah itu, Vayu adalah itu, Candramas adalah itu, Sinar adalah itu, Air juga adalah dia dan prajapati adalah dia.
 
Arti istilah Atma-Tattwa,
ialah kepercayaan mengenai atma. Atma disebut juga dengan istilah :
Ciwatma, Jiwatma, yang merupakan bagian kecil tak terukur (atom, anu, parama anu) dari Parama Atma (Brahman, Sang Hyang Widdhi).
“Brahman Atma Aikyam” (Brahman dan Atman adalah tunggal) demikianlah tersebut dalam kitab Upanisad.
 
Oleh karena Atman = Brahman, maka Atman kekal Abadi, achintya (tidak dapat dipikirkan) oleh pikiran manusia yang keadaannya terbatas. Jika Brahman (Parama Atma) dibandingkan dengan lautan, maka Atma ialah atomnya (molecule-molecule) air laut, yang tak terhitung jumlahnya.
Jika Brahman kita bandingkan dengan matahari, maka Atma ialah sinar-sinar yang dipancarkan oleh matahari ke segala penjuru, tak terhitung banyaknya.
Kalau kita menengadah ke angkasa, maka terlihatlah oleh mata kita butiran-butiran halus yang sangat kecil bergetar; dalam hal ini dapatlah kita bandingkan bahwa angkasa adalah Brahman (Parama Atma) sedangkan butiran-butiran atau titik halus yang bergetar ialah Atma-Atma yang tidak terhitung banyaknya Pada Kitab Aeteria Upanisad dijelaskan :   
“(Atma) adalah Brahman (Tuhan) pada diri manusia (Microcosmos, Bhuwana Alit) dan juga matahari (Macrocosmos) alam semesta yang mana sebenarpysa satu,
Atma adalah Brahman”. Jelaslah bahwa ‘Atma. (Ciwatma, Jiwatma) merupakan sumber hidup seluruh mahluk alam semesta (Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit).
Secara umum mengenai istilah Atma dapat dikemukakan sebagai berikut:
Parama Atma (Brahman) : Tuhan, Sang Hyang Widdhi; Atma Yang Agung.
Atma: Bagian dari pada Brahman (Parama Atma), yang mempunyai sifat-sifat sangat suksma (gaib). Sumber hidup bhuwana Agung dan Alit.
Ciwatma: Atma yang berasal dari Ciwa ; menjadi sumber hidup.
Jiwatma/Adhiyatma : Jiwa, dari akar kata Jiw, berarti hidup; Atma yang memberikan hidup pada diri manusia.
 
Dalam agama Hindu terdapat keyakinan bahwa ada “sesuatu yang sejati” dalam tiap individu yang disebut atman, sifatnya abadi atau tidak terhancurkan. Taittiriya-upanishad mendeskripsikan bahwa atman individu diselimuti oleh lima lapisan: annamayakosa (lapisan badan kasar yang mengandung daging dan kulit), pranamayakosa (lapisan tenaga kehidupan), manomayakosa (lapisan pikiran atau indera yang menerima rangsangan), wijanamayakosa (lapisan nalar, akal budi, atau kecerdasan), anandamayakosa (lapisan kebahagiaan atau tubuh kausal).
 
Istilah atman dan jiwa kadangkala dipakai untuk konteks yang sama. Dalam suatu pengertian, atman adalah Brahman, sedangkan jiwa adalah penggerak segala makhluk hidup. Menurut teologi Hindu yang monistis/panteistis (seperti mazhab Adwaita Wedanta), sukma individu sama sekali tiada berbeda dari Brahman. Sukma individu disebut jiwatman, sedangkan Brahman disebut paramatman. Maka dari itu, ajaran ini disebut aliran non-dualis.
 
Ketika tubuh individu hancur, jiwa tidak turut hancur. Sebaliknya, ia berpindah ke tubuh baru melalui reinkarnasi (samsara). Jiwa mengalaminya karena diselubungi oleh awidya atau “ketidaksadaran” bahwa dirinya sesungguhnya sama dengan Paramatman. Tujuan kehidupan menurut mazhab Adwaita adalah untuk mencapai kesadaran bahwa atman sesungguhnya sama dengan Brahman. Kitab Upanishad menyatakan bahwa siapa pun yang merasakan bahwa atman merupakan esensi dari tiap individu, maka ia akan menyadari kesetaraan dengan Brahman, sehingga mencapai moksa (kebebasan atau kemerdekaan dari proses reinkarnasi/samsara).
 
Yoga dari Resi Patanjali sebagaimana yang diuraikan dalam Yogasutra berbeda dengan monisme yang diuraikan dalam filsafat Adwaita. Menurut yoga, pencapaian spiritual tertinggi bukanlah untuk menyadari bahwa segala kemajemukan di alam semesta merupakan maya. Jati diri yang diperoleh saat mencapai pengalaman religius tertinggi bukanlah atman belaka. Itu hanyalah salah satu jati diri yang ditemukan oleh individu.
 
Meruntuhkan “tembok alam sadar manusia” untuk membangun “persatuan” jati diri individu (jiwatman) dengan sukma alam semesta (paramatman), merupakan tujuan praktik yoga.
 
Menurut pemahaman dualistis seperti mazhab Dwaita, jiwa merupakan entitas yang berbeda dengan Tuhan, namun memiliki kesamaan. Jiwa bergantung kepada Tuhan, sedangkan pencapaian moksa (lepas dari samsara) bergantung kepada cinta pada Tuhan serta kasih sayang Tuhan.
 
Atharwa Weda X.8.11
“Tat sambhuya bhavati ekam eva”
 
Brahman adalah inti alam semesta dan segalanya dilarutkan menjadi seragam dengan-Nya.
 
Reg Weda X.82.7
“Anyad yusmakam antaram babhuva”
Tuhan berada dalam hatimu.
 
Esa sarvestu bhutesu
gudho ‘tma na prakasate,
drsyate tvargyaya buddhya
suksmaya suksma darsibhih
(Katha Upanisad I.3.12)
Artinya :
          Atman yang bercahaya halus itu
          Ada dalam setiap mahluk
          Ia hanya dapat di lihat oleh para rsi
          Dengan budi yang tajam dan murni
Asabdam Asparsan Arupam Avyayam
tatha arasam nityam agandhavac ca yat
anady anantam mahatah param dhruvam
nicayya Tam Mrtyu Mukhat Pramucyate
(Katha Upanisad I.3.15)
Dari berbagai banyak sumber sastra sruti dan lontar dibali menyatakan bahwa :
BRAHMAN = ATMAN
PARAMATMAN = JIWATMAN
----------------------------------------------------------
Sekarang kitab sruti dan sloka hindu ditentang oleh kaum sesat HK, mengatakan sprt ini :
            Hare Krishna sangat menentang konsep Mayavadi yang menyatakan bahwa Tuhan adalah tidak berwujud yang disebut Nirguna Brahman dan akhirnya karena terjerat oleh Maya yang Dia ciptakan menjadi berwujud yang disebut Sarguna Brahman karena menurutnya, Tuhan Yang Maha Kuasa tidak mungkin terjerat oleh ciptaanNya sendiri.(inilah yang menentang sruti tentang brahman=atman).lalu bagaimana dengan wisnu turun kedunia sbg awatara, yang terjebak dalam material, lahir, menerima kutukan gandari, mati terpanah, dll).
             Meski lebih sering menyebut nama Tuhan dengan sebutan Krishna dan Rama, namun pengikut Hare Krishna tidak menolak nama Tuhan yang lain. Bahkan dikatakan nama suci Tuhan tidak terhingga jumlahnya. Visnu Sahasra Nama atau 1000 nama suci Tuhan sebagaimana disampaikan dalam Padma Purana dan juga Mahabharata Anushāsanaparva 149 menjadi salah satu panduan kebebasan pengikut Hare Krishna dalam menyebut nama Tuhan yang mereka sukai.( disini dapat dilihat kebohongan, dimana krisna adalah yang tertinggi dan tdk ada nama suci lain, mereka harus yakin kpd satu tuhan yakni krisna krna kresna adalah segalanya).
          Mengenai para dewa, ajaran Hare Krishna mengatakan bahwa Tuhan dan dewa berbeda. Para dewa adalah abdi Tuhan Yang Esa yang merupakan Jiva Tattva yang merupakan individu yang sama dengan mahluk hidup yang lain tetapi karena guna dan karma-nya mereka mendapatkan badan dan kedudukan seperti itu. Namun demikian, dalam beberapa posisi seperti kedudukan Brahma, Visnu dan Siva kadang kala juga diemban oleh Tuhan sendiri dalam aspeknya sebagai Tri Guna Avatara (Bhagavata Purana 1.2.23)…( dan ini sudah jelas sekali bertentangan dgn sruti terutama catur weda, indra, varuna, agni, aswin, dll adalah brahman sbg fungsi dan tugas sinar suci brahman dalam mantram mantram weda(dewa), dan kesqlahan besar adalah purana melangkahi otoritas tertinggi yakni sruti).
 
IB ARNAWA 
      Perbedaan antara Tuhan dan Atman dalam ajaran Hare Krishna sangat jelas. Hare Krishna menolak pendapat yang mengatakan bahwa Atman dan Brahman (Tuhan) itu sama. Tuhan adalah Tuhan dan Atman tetaplah Atman yang semuanya adalah individual terpisah yang secara kuantitas sama, tetapi secara kualitas berbeda. Konsep ajaran ini dipertajam oleh Sri Chaitanya Maha Prabhu sebagai salah satu acharya dalam garis perguruan Hare Krishna dengan filsafatnya yang sangat terkenal, yaitu “Achintya Bheda Abheda Tattva”. Sehingga atas dasar ini, ajaran Hare Krishna menolak asumsi yang mengatakan oleh karena kita adalah Atman yang sama dengan Brahman, maka suatu saat nanti jika sudah mencapai moksa maka kita akan menyatu dan menjadi Tuhan…. (sangat jelas sekali dalam upanisad utama selalu mengatakan brahman=atman,sruti sdh diobok obok dgn bahasa ngawur acintya beda beda, mungkin waktu makan gado-gado atau bahasa balinya srombotan mendapat ilham shg ada kata terucap acintya beda-beda)
    Ajaran Hare Krishna dengan tegas menolak konsep moksa yang menyatakan kita sebagai Atman sama dengan Tuhan dan suatu saat bisa menyatu dan menjadi Tuhan.
 
Jadi dari penjabaran ajaran di atas, terlihat bahwasanya ajaran “Hare Krishna 100% melecehkan kitab suci Veda sesuai statmen pendiri hk bahwa weda cabang cabang kering dan pengikut hindu yang tidak berguna”

Continue reading

BERBICARALAH NUSANTARA

Featured

Keharuman Negeri yang tersebutkan dengan Nama “INDONESIA” adalah Warisan tanpa Batas Leluhur Nusantara – Berpuluh Bangsa  dalam satu Negara adalah Penciptaan yang Sempurna untuk anak cucu yang terlahir dalam Naungan Bendera Merah, Kepakan Sayap Burung Garuda dan Tuangan Pemahaman Tepo Seliro Undang-Undang Dasar 1945.

Pengingkaran akan Nilai Budaya dan Nusantara sebagai Negara Kesatuan Republikm Indonesia oleh satu Golongan ataupun oleh siapapun itu, sakarang dan nanti adalah Bentuk PENGHIANATAN, bukan hanya kepada Bangsa, tetapi Pendosa Besar dan Penghianatan Kepada Leluhur. 

Berjanjilah Demi Nusantara untuk selalu Menjadi “Caraka Nusantara”. Bersiaplah, karena “Caraka-Abhiseka” adalah Jiwa-Jiwa Nusantara, Wujud yang diwujudkan oleh Penguasa Kemahakuasaan. Jiwa Bangsa Indonesia ada Pada Lambang Burung Garuda, dan Dasar Negara PANCASILA adalah Kehormatan Bangsa – Harga Mati sebagai Caraka Nusantara.

Menjaganya adalah Kewajiban, bukan karena Keinginan dapatkan Hak – Karenanya Wahai Caraka… CAMKANLAH

Bagian Lain Dalam Terjemahannya

Featured

Relief Kehidupan menepis dalam setiap logika dan akal sehat, inginkan satu yang bersifat atraktif dan dalam ditela’ah oleh akal sehat tetapi selalu termentahkan oleh singgungan yang sering saya sebut dengan dimensi waktu yang secara tidak langsung diakui sebagi sekat dalam menapak keinginan dan pencapaian atas olah pikiran dan logika.

Bilamana dalam satu atau dua bahkan tiga kerangka dan pola dalam mementukan sikap tidak bisa dihentikan oleh yang menurut kita apapun, tetapi dalam Relief kehidupan, semua bisa bahkan dan sangat mungkin berubah. kenapa ? apakah karena kita tidak cermat dalam mentukan apa dan bagaimana pola yang kita siapkan, baik dalam pola rencana atau pola pelaksanaannya, bahkan unsur kekinian pun sudah terangkum bahkan jelas jadi bagian penting dalam satu pola. Terkadang unsur manusiawi juga sudah kita kesampingkan karena penanamannya lebih mengarah kepada rasa tepo seliro dan welas asih (unsur utama rusaknya sebagian bahkan seluruh pola dalam berkehidupan).

ADA BAIKNYA KITA SULUT ROKOK PENAMBAH INSPIRASI DAN TEGUK SECANGKIR KOPI PENUNJANG PIKIRAN

Mulsyar : Dunia Para Naye, Sinu dan Vali

Perjalanan Cinta

Wahai saudaraku. Sudah lama sekali rasanya ingin menyampaikan hal-hal yang tidak biasa. Mengapa begitu? Karena apa yang kami ceritakan disini tidak lagi berlangsung di Bumi ini, bahkan tidak juga di Alam Semesta kita. Dan tak bisa dipungkiri bahwasannya ada banyak Dimensi dan Alam Semesta lainnya selain tempat keberadaan kita ini. Semuanya merupakan satu ketetapan dari setiap kehendak-Nya. Tak ada yang bisa menolaknya, meskipun ada saja yang tetap berusaha menafikannya.

Karena itu, sebelum engkau membaca lebih jauh isi dari tulisan ini, bukalah dulu cakrawala hati dan pikiranmu seluas mungkin. Lepaskan ikatan yang membelenggu selama ini (doktrin, dogma) agar mampu menerima apa saja yang disampaikan kali ini. Persiapkan dirimu dengan banyak wawasan yang tidak biasa (anti mainstream). Jika tidak, maka sebaiknya jangan dilanjutkan membacanya. Itu tidak baik untukmu, karena engkau nanti hanya akan mencela dan menolaknya.

View original post 7,650 more words

Why the Dollar Has Never Been Stronger or More Set Up to Fail – CoinDesk

https://www.coindesk.com/why-the-dollar-has-never-been-stronger-or-more-set-up-to-fail

Dunia Selepas Virus Corona

STAR GLAM MAGAZINE

oleh Yuval Noah Harari

Diterjemahkan dari Yuval Noah Harari: the world after coronavirus

Penerjemah: Prima Sulistya

f9f89970-6a11-11ea-a6ac-9122541af204(Photo: Ft.com/© Graziano Panfili)

Umat manusia kini menghadapi krisis global. Bisa jadi krisis terbesar di generasi kita. Keputusan individu dan para pemerintah beberapa minggu ke depan mungkin akan membentuk bagaimana dunia di tahun-tahun mendatang. Mereka akan membentuk bukan hanya sistem kesehatan kita, melainkan juga ekonomi, politik, dan budaya kita. Kita harus bertindak cepat dan yakin. Kita juga harus menimbang akibat jangka panjang dari tindakan saat ini. Ketika memilih jalan keluar yang mana, kita harus bertanya ke diri sendiri bukan hanya bagaimana ancaman saat ini, melainkan juga dunia macam apa yang ingin kita huni selepas badai ini berlalu. Ya, badai pasti berlalu, umat manusia akan bertahan, sebagian besar dari kita akan tetap hidup—tapi kita akan tinggal dunia yang telah berbeda.

Akan ada langkah mengatasi kedaruratan yang menjadi bekal hidup selanjutnya. Itulah watak kedaruratan. Mereka mempercepat…

View original post 2,336 more words

Belajar Bersyukur dan Melihat Kebaikan di Balik Setiap Situasi

rawanda.blog

Photo from Pixabay

Hidup sederhana dan menjalankan kebajikan itu bukan teori belaka. Saya beruntung menyaksikan contoh nyata di lingkungan keluarga terdekat saya. Jauh sebelum saya belajar tentang psikologi, filsafat serta agama, ayah saya Johanes Albert Tuturoong (22 Februari 1942 – 3 November 2010) telah menjalani kehidupan yang sederhana. Sampai akhir hayatnya.

Sepengetahuan saya, ia tidak pernah belajar filsafat secara formal. Tapi, tiga prinsip yang ia terapkan dalam hidupnya adalah: menjunjung tinggi etika, selalu bersyukur dengan melihat kebaikan di balik setiap situasi, dan mengoptimalkan peluang apapun yang tersedia di hadapannya.

Mirip betul dengan Stoikisme, yang diperkenalkan para bijak seperti Marcus Aurelius, Seneca dan Epictetus, ribuan tahun yang lampau. Dichotomy of control atau pemilahan kendali – yaitu hanya fokus pada hal-hal yang mungkin kita kendalikan dan tak perlu pusing dengan hasil yang tak bisa kita kendalikan – benar-benar dipraktekkannya.

Mengawali karir sebagai guru, ia pensiun sebagai bankir profesional di tahun 1997…

View original post 1,398 more words

Strategi Paling Jitu Meningkatkan Mutu Demokrasi adalah Memperluas Penggunaan Ilmu Pengetahuan

rawanda.blog

Photo by Johnhain from Pixabay

Ada sebuah riset menarik yang dilakukan Profesor David Dunning, psikolog dari Cornell University beberapa tahun lalu. Ia menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak kompeten pada dasarnya tak mampu menilai kompetensi orang lain atau kualitas dari ide-ide orang lain.

Menurut Profesor Dunning, “Ide-ide yang sangat cemerlang akan sulit untuk diterima banyak orang, sebab umumnya publik tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui betapa baik sebuah gagasan.”

Kaitkan hal ini dengan demokrasi pada hari ini, maka kita akan menjadi maklum menyaksikan betapa proses politik, di berbagai tempat, belum dapat menghasilkan para pemimpin yang mampu menciptakan perdamaian dunia.

Lebih jauh, Profesor Dunning dan koleganya, Profesor Justin Kruger, menyimpulkan bahwa kebanyakan orang menganggap kemampuan intelektualnya berada di atas rata-rata. Hal ini mereka temukan ketika menguji kemampuan sejumlah orang dalam menilai kelucuan sebuah humor, ketepatan tata bahasa dan bahkan kehandalannya bermain catur.

Bahkan, orang-orang yang kemampuannya di level paling bawah pun menganggap…

View original post 313 more words