“Manis Untuk Gula”

Terkadang manusia hidup adalah menjalankan apa yang tidak pernah dia tahu akan arahnya, hanya mengikuti apa yang tergariskan dalam Dogma  Agama ataupun Dogma lainnya, seperti itu sebagian besar manusia dalam setiap langkahnya, kenapa ? karena merasa sudah cukup baginya dalam menikmati hidupnya. Sederhana Hidup Bekerja untuk makan, bertanggung jawab, dan bahagia dalam standar masing-masing, urusan mati – nanti karena tidak ada yang tahu kepastian akan kematian dan dunia setelah kematian kecuali tulisan yang tercantum dalam dogma mereka terkiaskan dalam setiap katanya, lahirlah manusia-mansia Oportunis. 

Tetapi ada pula, sebagaian yang selalu ingin tahu kenapa dia hidup untuk apa dia hidup dan bagaimana dia harus menjalani hidup, bagaimana dia sempurnakan hidupnya sehingga kelak dia mati sorga ganjarannya, malah bilamana hidup nanti menjadi manusia dengan derajat lebih sempurna dan berderajat. Akhirnya apa yang dilakukannya selelu mencari tanpa pernah ada rasa puas, membanggakann diri kadang lucunya mengaku goblok dengan tujuan lari dari kesalahan dan tidak bertanggung jawab, manusia seperti ini hampir pasti yang dia dapatkan malah ketidakpastian dan paling pintar berjanji tentang kepastian, ya pasti dan ketidakpastian adalah bagian sulit dalam pencernaan manusia didalam olah otaknya untuk berfikir, karena akal tidak akan dimanfaatkan secara logika, Lahirlah manusia Munafik. 

Adapula manusia dengan segala pola yang dia yakini menjalankan kehidupannya berusaha menerima dengan mencerna segala sesuatunya, memanfaatkan logika dengan pemahaman apa yg dipikirkan oleh otaknya menjadikan pikirannya adalah alat utama dalam setiap langkahnya. Sempurna ??? tidak juga, karena dia harus mengingat bahwa berkehidupan adalah Berbudaya dengan segala aspek utamanya sosial masyarakat. sehingga wajiblah apapun logika dalam berakal hasil olahan pikiran manusia seperti ini, tetap dalam koridor manusia Berbudaya dan  haruslah memperhatikan lingkungan sekitarnya, terbentuk manusia logic sosialis.


Pada Intinya semua manusia menginginkan hal yang baik dan mendekati sempurna dalam hidupnya, seperti halnya ketika berharap Bahagia, kadangkalanya bahagia yang diinginkan berbeda hasilnya dengan apa yang didapatkan. Adapula malah lebih dari apa yang diharapkannya. Disinilah pahit manisnya kehidupan. lahirlah 

Adakah benda atau zat yang mewakili bagaimana pahitnya kehidupan dan bahagia yang manusia dapatkan ?  seperti Kopi misalnya “Kasian kamu seperti kopi nasibmu”. kasian… tidak akan bisa berubah manjadi suatu kiasan yang membanggakan. 

Tetapi ketika orang menggambarkan bahagianya hidup “bagaikan manisnya gula kebahagian yang kamu jalani”. tak terukur rasa bahagia itu tersampaikan, tetapi jangan lupa disinilah letak bedanya ketika gula sebagai hal yang harus dibanggakan tetapi larut dalam komunitas satuan benda, misalnya kopi pahit tambahkan gula … “wooww  Mantap kali kopi panas buatan kau, hmmm teh hangat buatan kamu pas benar rasanya”.. tak ada satupun gula di sebutkan oleh manusia “kopi gula atau teh gula”. mereka lupa padahal semua itu disebabkan oleh manisnya gula.

 

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Tetapi begitu mewakili penyakit dan paling susah pengobatannya rasa manisnya gula hilang untuk dibanggakan, maka adalah Gula (manis) biang keroknya….

“kasian dia kena Gula”. “aduuuuh hati-hati kaau kalau sudah kene kencing manis”. 

Pernahkah manusia Menghargai kebenaran apa yang sudah gula lakukan?? jawabannya TIDAK. mereka lupa karena larutnya gula tidak pernah meraka yakini sebagai penyebab sehingga berakibat, tidak pernah mereka hargai sebagai penyebab utama kenapa kopi menjadi pas dan teh menjadi lebih nikmat. Hampir seluruh manusia seperti itu, apalagi ketika apa yang mereka rasakan dan inginkan dapatkan tercapai dan akan dicapai, yang mereka lihat adalah hasil akhir dan tak akan pernah menoleh proses kenapa, bagaimana semua menjadi ada dan mereka nikmati. 

Adakah yang tahu bagaimana Gula berkorban dan mengorbankan dirinya sehingga apa yang manusia nikmati menjadi lebih pantas dan baik dalam rasa manusia, ADA TAPI MENYIMPAN HARGA DIRI DAN EGONYA.

Type manusia sekarang, bangga dengan mantap kali kopi panas kau. atau pas banget teh hangat kamu.    =N A I F=

NASIBMU GAK JAUH BEDA DENGAN GULA.
PENGHIANATAN, KAMBING HITAM, DAN PEMOJOKAN AKIBAT
PENCUCIAN NAMA BAIK ORANG LAIN ADALAH TANGGUNGANMU.
YANG SALAH MENJADI PEMBENARAN DAN
KEBENARANMU MENUNGGU WAKTU KAMU UNGKAP


apa lagi yang kamu tunggu. harga diri ? apakah kamu masih punya
Harta bukankah tinggal dalam hitungan jam kamu akan kehilangan
bukankah kamu tidak bisa terpejam karena kamu menunggu nasibmu
“Sikut Satak Karang Suwung”

APAKAH MEMANG OTAK MANUSIA YANG DIISI OLEH KEMAMPUAN BERFIKIR DENGAN SEGALA KELEBIHAN AKALNYA HANYA MAMPU SEBAGAI ORANG YANG TIDAK TAHU BALAS BUDI, DAN ANGGAP APA YANG DIA NIKMATI ADALAH HAK – ATAU KEINGINAN UNTUK MENDAPATKAN PENGAKUAN HARGA DIRI DAN PRESTISE ATAS KEBERHASILAN MEREKA DENGAN MENGUBUR APA YANG TELAH DILAKUKAN OLEH GULA.


by Jakalaknat. 
dalam satu tulisan tak berjudul, tetapi siap dipertanggungjawabkan


PropellerAds
Advertisements