Pendawa Lima dalam Kisah dan Keyakinan Sebagai Falsafah Kehidupan

Dalam penambahan atas pikiran yang sejalan, bila hendak melihat Goresan asli : https://azmi648.blogspot.com/2014/10/sejarah-pandawa-lima.html?m=1    
Panca “Lima” Pandawa Putra Pandhu Dewanata. – Dewi Kunti dan Dewi Madri

Kisah pewayangan merupakan kisah legendaris bagi masyarakat Hindu. Carita Mahabrata dan Bratayudha di india maupun di Indonesia semasa nusantara dibawah jaman kerajaan Hindu, kisah tersebut mengakar dalam cerita rakyat, juga berkembang menjadi budaya di masyarakat nusantara. Seperti kitab Bharatayudha karangan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang merunut pada Nahkah aslinya Karangan Begawan Abhyasa.

Pada tanggal 7 November 2003, wayang dianugerahi oleh UNESCO sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Kisah Baratayudha, sebuah kisah pertempuran antara bala Pandawa dan Kurawa di Kurusetra, meninggalkan sepenggal legenda heroik yang sarrat makna. Pandawa yang merupakan Putra Pandu, terdiri dari 5 orang kesatria yang melambangkan kebaikan dan 5 sifat kesempurnaan manusia (khususnya pria)

1. PRABU YUDISTIRA (DHARMAWANGSA / PUNTADEWA)

Raden Yudistira begelar Prabu karena seyogianya dia adalah yang Raja Astinapura, yang akhirnya mendirikan Kerajaan Inderaprasta, Dalam pewayangan jawa lebih sering dikenal dengan Puntadewa, merupakan putra pertama Pandawa yang memiliki sifat paling Jujur. dalam kisahnya Dia diceritakan tidak pernah berbohong selama hidupnya. Dia juga disebut Satria dari Amarta. Seperti dituliskan diatas, Yudisthira adalah pemegang hak waris Tahta Kerajaan Hastinapura yang sesungguhnya, karena ayahnya Pandu Dewanata menitipkan Hastinapura kepada Destarata Kakaknya yang juga merupakan ayah para Korawa. Namun karena ketamakan Korawa, Pandawa menjadi teraniaya dan sering ditipu.

2. RADEN BHIMASENA (WERKODARA)

Dalam pewayangan jawa Werkudara atau Bimasena, merupakan putra kedua Pandawa yang paling perkasa dan pemberani, tempramental namun mencintai kebenaran, ia dikenal dengan Gada Rujakpolo sebagai senjatanya yang paling terkenal. Werkudara adalah satria dari Jodiphati, wilayah dari Amarta. Dia menganggap semua orang sama derajadnya, sehingga dalam cerita pewayangan jawa, dia tidak pernah bicara dalam Bahasa Krama Inggil (bahasa jawa yang nilai rasanya paling halus) juga tidak pernah duduk ketika berbicara dengan orang lain. Sifat khasnya yang lain, dia tidak suka berbasa-basi dalam berbicara, tanpa tading aling-aling dan tidak pernah menelan kembali ludahnya sendiri.

3. RADEN ARJUNA (JANAKA/PERMADI)

Dikenal juga dengan nama Janaka atau Permadi, diceritakan memiliki wajah yang rupawan, romantis, dan pecinta ulung dengan panah pasopati sebagai senjatanya. dalam berbagai kisah roman masa kini, kisah arjuna banyak dijadikan inspirasi percintaan para sastrawan. Janaka merupakan Satria dari Madukara.Arjuna memiliki banyak istri, yang paling terkenal adalah Sembadra dan Srikandi. Sembadra memiliki sifat yang lembut, lemah gemulai, anggun dan santun. sedangkan Srikandi memiliki sifat lincah, enerjik, bahkan ikut bertempur di Baratayudha bahu-membahu bersama suaminya. maka dalam masyarakat masa kini wanita karir dengan segudang prestasi sering dikiaskan dengan Srikandi istri sang Arjuna.Meskipun tampan dan rupawan, Arjuna merupakan kesatria tanpa tanding, selalu menang dalam setiap pertempuran. untuk itu dia juga pernah dijuluki Wijaya yang berarti tidak pernah kalah. Prabu Yudistira, Bhimasena dan Arjuna adalah Putra Pandu Dewanata dari Ibu Dewi Kunti

4. RADEN NAKULA

Terlahirkan Kembar dengan Sahadewa, dengan Ibu Dewi Madri. Mempunyai watak setia, taat, belas kasih, tahu membalas budi dan dapat menyimpan rahasia. dia memiliki kelebihan dalam ilmu pengobatan. Dikisahkan dia memiliki ingatan yang tidak terbatas, sehingga dapat mengingat semua hal yang pernah ia alami.

5. RADEN SAHADEWA

Sadewa dikisahkan memiliki sifat bijak dan pintar. jika Nakula saudara kembarnya memilikiingatan masa lalu yang kuat, sadewa memiliki penglihatan masa depan karena Sadewa adalah seorang ahli perbintangan yang ulung (ramalan) dan dianggap mengetahui kejadian yang akan terjadi dalam Mahabharata namun ia dikutuk bahwa apabila ia membeberkan apa yang diketahuinya, kepalanya akan terbelah. Maka dari itu, selama dalam kisah ia cenderung diam saja dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Sadewa jugalah dengan kepintarannya akhirnya yang berhasil membunuh Sengkuni, paman dan penasihat Korawa yang paling pintar (licik).

Dalam kisah Baratayudha, seteru pandawa adalah Korawa Putra Prabu Dastarata dengan Duryudana sebagai putra sulungnya, merupakan seratus bersaudara laki-laki yang merupakan sepupu pandawa. Seratus berarti banyak, maka Kurawa merupakan filosofis dari Tamak dan Serakah.

Dalam kisah Baratayudha lahir pula berbagai sosok pahlawan yang gugur di medan Kurusetra.

6. RADEN ABIMANYU

Tokoh yang sering terdengar namanya ini adalah putra Arjuna dari Dewi Sembadra, merupakan sosok yang lembut, namun keras hati. dia seorang yang cerdik, ahli strategi, dan patuh kepada ayahnya. Pada hari ketiga belas perang Bharatayuddha, Abimanyu tewas dalam formasi Chakrayuda korawa yang sebenarnya digunakan untuk menjebak Pandawa yang begitu tangguh. namun Abimanyu yang berhasil memporakporandakan formasi korawa malah tertinggal dalam Chakrayuda sendirian, karena para pandawa yang lain dipancing keluar. dengan gagah berani Abimanyu bertarung seperti banteng terluka menjelang ajalnya di medan Kurusetra. Bahkan sempat menewaskan Laksamana, Putra kesayangan Duryudana. Abimanyu merupakan sosok pejuang sampai titik darah penghabisan. Pada Saat itu Raden Abimanyu sudah mempunyai Istri yang sedang Hamil Tua bernama Dewi Supraba, tetapi dititipkan di Kerajaan Mandraka Istana Prabu Krisna, yang mana nanti akan Terlahir seorang satria Penerus Kerajaan Hastinapura bernama Raden Parikesit.

7. RADEN GATOTKACA

Gatotkaca merupakan putra Bima dengan dewi Arimbi, kesatria sakti mandraguna dari Pringgodani. dikisahkan sebagai seorang manusia setengah raksasa yang gagah perkasa,  memiliki sifat pemberani rela berkorban, dan pantang menyerah terbukti dengan pertempurannya dengan Adipati Karna adalah untuk menghidari tewasnya Arjuna apabila terjadi Pertempuran antara Adipatai Karna dengan Arjuna pada Perang Bratayuda. Ketika lahir, ia di masukkan dalam kawah candradimuka sehingga benar2 menjadi kesatria yang tertempa. Dia bisa terbang, memiliki otot kawat balung wesi (otot kawat tulang besi). Gatotkaca memiliki dua orang saudara tiri yang juga sangat sakti yaitu Antareja dan Antasena, namun kedua saudaranya tersebut meningal sebelum perang Baratayudha. Gatotkaca tewas oleh Adipati Karna dengan satu-satunya senjata yang bisa membunuhnya yaitu Kuntawijayadanu, sebuah Tombak Sakti Pemberian Batara Indra yang hanya bisa digunakan sekali saja, Tombak tersebut adalah Penukaran Baju Antakusama yang Sarungnya digunakan untuk memoton tali pusarnya sewaktu lahir, dan pada saat itu sarung tombak tersebut masuk kedalam perut Raden Gatotkaca. pada hari tewasnya Gatotkaca menukar nyawanya dengan seribu nyawa pasukan Korawa.

Selain dua tokoh tersebut masih banyak lagi Tokoh-tokoh Penting yang Gugur dari kedua Pihak, dari Korawa seperti Bhisma, Dorna, Sakuni, Prabu Salya, dan Adipati Karna. Dari Pihak Pandawa seperti Prabu Drupada ayah Dewi Kunti istri Para Pandawa.

Wayang merupakan cerita moral yang lekat dengan budaya asli indonesia khusunya di jawa. Bahkan Walisongo menggunakan wayang (entertainment pada masa itu) sebagai media untuk menyebarkan ajaran islam, dan sampai saat ini di daerah Rembang (perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur) wayang masih digunakan untuk media berdakwah.

Dalam Era sekarang, seandainya apa yang digambarkan dalam cerita wayang yang sering ditampilkan dalam lakon-lakon para Dalangnya, bila diresapai dan ditelaah dengan baik seharusnya tidak akan ada yang namanya pertentangan dalam setiap lapisan aspek berkehidupan. tetapi ada hal juga yang tidak mungkin bisa dilepaskan dari kehidupan adalah Hukum sebab akibat oleh Karma dan Rwa Bhineda (hakiki kehidupan manusia adalah berbeda dalam untain waktu atas hak dan kewajiban hidup di Dunia Mayapada ini, Hitam Putih, Baik Buruk, Sedih Senang, Takut berani dan sebagainya. jadi sampai kapanpun, sehebat dan sesadar apapun manusia bila yang menjadi harapan adalah tujuan mencapai Kepentingan, maka selamanya kisah-kisah pewayangan akan tetap menjadi ada tanpa disadari oleh manusia dialami dan dilakukan olehnya.

Selanjutnya adalah bagaimana manusia mampu berbuat atas keinginannya untuk mencapai tujuan padahal seharusnya bukan tujuan yang dicari tetapi bagaimana menuju Capaian. yang tentunya dipengaruhi oleh Lingkungan baik alam dan manusia lain. dan yang Paling tidak terbantahkan adalah Olah Pikiran manusia, Sebagai Kuasa Kemahakuasaan dari Pemilik Kekuasaan tertinggi Pencipta alam dan isinya ini.

Gusti Panembahan Pangwuoso Kuasa Ing Sang Dumadi, Urip Ingsung Karsaning Gusti, Badan Ingsung Karsaning Gusti. Lakuning Lampah kang Kahuripan Ingsung Karsaning Gusti. Gusti Kang Sampurno Kuasa ing Jagat Bawhono. Jagat Moyopingit, Sangkala Urip Ingsun Karsaning Gusti Maha Sampurno.

NYUWUN URIP LANGGENG BADAN SAMPURNA WARAS KARSANING GUSTI

by. jakalaknat13
Advertisements