SIWA NATARAJA

Dalam Siwa Tattwa dan Siwagama, khususnya Siwasiddhanta, Siwa Nataraja selalu dikaitkan dengan Siwa sebagai Penari Kosmis, Siwa sebagai Tuhan juga Siwa sebagai Guru Pertama (Adiguru) kesenian. Oleh karena itu Siwa dipuja oleh para seniman, karena Siwa-lah segala bentuk kesenian ada dan berkembang di masyarakat. Dengan demikian kesenian apapun jenisnya bermula dari Siwa menari untuk membebaskan jiwa-jiwa akibat terperangkap oleh kekuatan kekuatan maya sehingga jiwa jiwa tersebut bisa mendapatkan Siwaloka.





Bagi seorang seniman sejati, kesenian dipilihnya sebagai jalan pembebasan menuju Siwaloka, mereka berkeyakinan dijalan keindahan karena seni dalam perspektif hindu adalah yoga.

Siwa Nataraja banyak terdapat pada peninggalan arkeologis peradaban diindia yang diperlihatkan dalam peradaban HARAPPA dan MOHENJODARO, dalam bentuk patung atau lainnya..

Sedangkan peninggalan arkeologis di Indonesia baik di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur serta Bali tidak memperlihatkan adanya pengambaran Siwa sebagai Siwa Nataraja tetapi dalam wujud lain, unsur unsur gerakan gerakan kosmis Siwa Nataraja dapat dilihat pada sulinggih (mudra petanganan) , pada rerajahan, membuat banten, pada gamelan, tari, pada kidung, mantram, yoga, tantra, yatra, ajaran kediatmikaan, jyenana, dll.

Para Rsi jaman Weda melihat bentuk (Rupa) sebagai perwujudan keindahan dan selanjutnya Rupa dipandang sebagai manifestasi dari kebenaran kehidupan yang paling agung yang bagi mereka adalah KAMA, Kama adalah Benih Pikiran (Manah). dan ialah (KAMA) pertama yang mengada. Weda tidak memandang kama sesuatu yang kotor atau dosa. Ia adalah energi kehidupan. Dan karenanya ia beroperasi sesuai hukum kehidupan, seperti ritme, keseimbangan, harmoni dan proporsi, inilah hukum hukum bentuk, hukum hukum keindahan, kama hadir dalam setiap bentuk dalam berbagai cara, Kama adalah sumber dorongan kreatif. Karena cara pandang dan ekspresi dalam bentuk seni. Sehingga kama menjadi raja dari rasa atau estetik.

Advertisements