Di Kursi Pojok Sebuah Kafe

Gerimis Di atas Kertas

image

Jari-jarimu masih sibuk mengetik pada keyboard sebuah laptop yang terletak persis di hadapanmu. Engkau selalu teliti layaknya seorang penulis tengah merangkai huruf menjadi kalimat indah. Pekerjaan membuatmu larut pada keheningan. Cuma ada dirimu, beberapa tumpuk file yang harus selesai dan sebuah laptop yang kau bilang adalah sahabat sejati. Sahabat identik dengan manusia namun bagimu benda mati justru memiliki eksistensi lebih dan menyumbang banyak jasa dalam hidupmu. Semua sukses ini, kesibukan ini, engkau peroleh dari hal-hal yang tidak pasti namun engkau pastikan ada. Semua larut membawamu sampai pada kebahagiaan di dalam keheningan.

Aku melihatmu setiap senja datang mengunjungi kafe ini. Memesan makanan sembari menghampiri kasir dan beberapa langkah pasti menuju tempat favorit. Kursi pojok sebuah kafe. Bagimu hening adalah tempat istimewa layaknya surga. Engkau mampu bergerak bebas dan berudara ditempat yang dijauhi semua orang saat mereka makan. Banyak pengunjung datang untuk sekedar berbincang-bincang, makan, atau befoto dan berpose. Tentu mereka memilih…

View original post 217 more words

Advertisements

Hidup dengan Borderline Personality Disorder, Seperti Apa?

Gerimis Di atas Kertas

Aku ingat, pertama kali merasakannya saat umurku 14 tahun dan bersekolah di sebuah SMP di kota kecil yang sekarang sudah aku tinggalkan. Hari-hariku saat itu adalah menimbang antara “hari ini akan jadi hari baik” atau “hari ini akan jadi hari buruk”. Circle yang sekarang sudah jauh aku tinggalkan ternyata aku sadari memang tidak pernah bisa aku lepaskan.

Aku pun enggan lagi mengingat ada hal-hal di masa lalu yang sangat menyakitkan, yang masih terjadi hingga sekarang. Setiap kali belajar mindfulness mungkin hanya setengah dari diriku yang mau menerimanya, mau berdamai, setengahnya lagi hanya berpura-pura tegar seolah semua baik-baik saja.

Keadaanku semakin memburuk, aku ingat ketika aku tidak bisa merespon hal-hal di lingkungan dengan baik. Kadang aku merasa orang-orang begitu baik seperti malaikat, namun sekali mereka melakukan kesalahan aku akan menganggapnya begitu jahat. Seringkali aku memutuskan hubungan pertemanan, tidak terhitung lagi berapa orang, berakhir menyalahkan diri sendiri karena begitu bodoh, merasa hampa…

View original post 373 more words