About Abhiseka Ceraka Nusantara

Belajar Duduk Tanpa Tunjukkan Tampang apalagi Sampai Harus Jual Tampang. Dan Tidak Mau Belajar Jual Tampang karena Akibatnya Pasti Rebutan Tempat Duduk

Di Kursi Pojok Sebuah Kafe

Gerimis Di atas Kertas

image

Jari-jarimu masih sibuk mengetik pada keyboard sebuah laptop yang terletak persis di hadapanmu. Engkau selalu teliti layaknya seorang penulis tengah merangkai huruf menjadi kalimat indah. Pekerjaan membuatmu larut pada keheningan. Cuma ada dirimu, beberapa tumpuk file yang harus selesai dan sebuah laptop yang kau bilang adalah sahabat sejati. Sahabat identik dengan manusia namun bagimu benda mati justru memiliki eksistensi lebih dan menyumbang banyak jasa dalam hidupmu. Semua sukses ini, kesibukan ini, engkau peroleh dari hal-hal yang tidak pasti namun engkau pastikan ada. Semua larut membawamu sampai pada kebahagiaan di dalam keheningan.

Aku melihatmu setiap senja datang mengunjungi kafe ini. Memesan makanan sembari menghampiri kasir dan beberapa langkah pasti menuju tempat favorit. Kursi pojok sebuah kafe. Bagimu hening adalah tempat istimewa layaknya surga. Engkau mampu bergerak bebas dan berudara ditempat yang dijauhi semua orang saat mereka makan. Banyak pengunjung datang untuk sekedar berbincang-bincang, makan, atau befoto dan berpose. Tentu mereka memilih…

View original post 217 more words

Advertisements

Hidup dengan Borderline Personality Disorder, Seperti Apa?

Gerimis Di atas Kertas

Aku ingat, pertama kali merasakannya saat umurku 14 tahun dan bersekolah di sebuah SMP di kota kecil yang sekarang sudah aku tinggalkan. Hari-hariku saat itu adalah menimbang antara “hari ini akan jadi hari baik” atau “hari ini akan jadi hari buruk”. Circle yang sekarang sudah jauh aku tinggalkan ternyata aku sadari memang tidak pernah bisa aku lepaskan.

Aku pun enggan lagi mengingat ada hal-hal di masa lalu yang sangat menyakitkan, yang masih terjadi hingga sekarang. Setiap kali belajar mindfulness mungkin hanya setengah dari diriku yang mau menerimanya, mau berdamai, setengahnya lagi hanya berpura-pura tegar seolah semua baik-baik saja.

Keadaanku semakin memburuk, aku ingat ketika aku tidak bisa merespon hal-hal di lingkungan dengan baik. Kadang aku merasa orang-orang begitu baik seperti malaikat, namun sekali mereka melakukan kesalahan aku akan menganggapnya begitu jahat. Seringkali aku memutuskan hubungan pertemanan, tidak terhitung lagi berapa orang, berakhir menyalahkan diri sendiri karena begitu bodoh, merasa hampa…

View original post 373 more words

Ketenangan Diri

Perjalanan Cinta

Wahai saudaraku. Dalam setiap harinya, di setiap peristiwa dalam hidup ini, hampir semuanya adalah tentang mengambil sebuah keputusan. Dan setiap keputusan itu akan berdampak baik atau buruk, sementara atau pun selamanya. Bahkan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi keluarga, anak cucu, dan generasi selanjutnya.

Lalu, saat hendak mengambil keputusan, maka hati pun menjadi sebuah medan pertempuran. Ada perasaan ragu-ragu, cemas, dan bingung menyertai. Akibatnya apapun keputusan yang diambil bisa jadi malah bukan untuk sebuah solusi, tapi semakin menambah masalah yang ada. Atau hanya untuk bisa menyenangkan seseorang saja, bukan untuk melakukan hal yang benar. Dan yang semacam ini sebenarnya merugikan, tapi sering tidak disadari atau bahkan diabaikan.

View original post 441 more words

Eksistensi Yang Absolut

Perjalanan Cinta

Wahai saudaraku. Kali ini kita akan membahas tentang Eksistensi. Sebab di dunia ini ada yang bersifat nyata dan ilusi, ada yang tampak dan goib. Namun begitu, apa yang disebut dengan Eksistensi Yang Absolut adalah berbeda dan tidak dipengaruhi oleh semuanya itu. Ia selalu mandiri dan bahkan menjadi penentu dari segalanya. Dia pun bukanlah makhluk atau ciptaan, bukan pula hanya sebatas anggapan dan identitas, tetapi yang menyebabkan semuanya ada dan tiada.

View original post 506 more words

Diriku Masih Bukanlah Aku

Perjalanan Cinta

Bersama cahayamu aku merasakan tersinari.
Bersama keindahanmu aku belajar mencintai.
Kau selalu hadir di dalam akal dan pikiranku.
Kau senantiasa menari-nari di hatiku,
Dan aku terkadang ikut pula menari-nari bersamamu.
Hakekat inilah yang pada akhirnya menjadi inti kebahagiaanku.

View original post 119 more words