Pahlawan dan Kesatria

Perjalanan Cinta

Wahai saudaraku. Kesatria dan Pahlawan adalah dua pilar dunia yang sangat kokoh. Perbedaan dari keduanya adalah yang satu menggunakan energi tempur untuk melawan atau melakukan perubahan, dan yang satunya lagi menggunakan energi spiritual untuk bisa menyatukan seluruh dunia. Dua kekuatan yang sering disalahartikan, karena sebagian besar orang percaya bahwa kekuatan itu dihasilkan hanya dari kerasnya latihan.

View original post 712 more words

PURA LUHUR CANDI NARMADA TANAH KILAP

Om Swastyastu

Sebelumnya ijinkanlah kami, mohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala Prabawa-Nya serta Ida Betara – Betari di Pura Luhur Candi Narmada Tanah – Kilap. Semoga kami terhindarkan dari “Raja Pinulah, Sod-Sod Upedrawa lan Tan Kekeneng Ala Papa Petaka, ke Cakrabhawa Dening Prabawan Ida Batara” karena pastinya dalam proposal ini secara sengaja akan menyebut nama / Pepasih Ida Batara-Batari yang berstana di Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap  dengan mengucapkan “Om Awigenemastu Namo Sidem” Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap terletak diperbatasan Kabupaten Badung dengan Kota Denpasar, wewengkong Desa Pemogan, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, tepatnya di muara Tukad Badung.  Dalam pengungkapan sejarahnya m`enurut Lontar Prasasti yang diketemukan di Griya Gede Gunung Biau Muncan Karangasem.

Tersadur sebagai berikut :

                Pada Zaman pemerintahan kerajaan “Bandanda Raja”, dipesisir Bağian Selatan Bali terdapat sebuah deşa “Tanpa Aran” disana hidup seorang “Bendega (nelayan) bernama “Pan Santeng”. Sebagai Nelayan, Pan Santeng sehari-hari  menjalani kehidupannya dengan menangkap ikan melalui muara sungai yang langsung berhadapan dengan laut. Pekerjaan menangkap ikan dilakukannya setiap hari dengan sungguh-sungguh.  Pada suatu hari, tidak seperti biasanya selama tiga hari berturut-turut Pan Santeng tidak memperoleh hasil sama sekali. Akhirnya I Bendega mengucapkan “Sesangi ” (janji/sot) seperti berikut :

“Ratu Ida Betara sane melinggih ring segara yening titiyang polih ulam sebarean, titiyang jagi ngaturaııg pakelem “suku pat metanduk mas”.

Semenjak itü, bila sang Bendega melaut, begitu banyak dilihat ikan, penyu dan sebagainya dipermukaan laut, maka hal tersebut adalah sebagai bukti apa yang menjadi permintaannya dikabulkan, sehingga setiap melaut Pan Santeng mendapatkan hasil boga sebarean.

                Pan Santeng merasa permohonannya terpenuhi, sebagai wujud memenuhi janji ucapannya dan bakti atas dikabulkan permintaannya. Pan Santengpun mewujudkan janjinya, maka dibuatlah pelinggih diatas batu karang. Maka bila hendak melaut, setiap hari 1 Bendega (Pan Santeng) melakukan persembahyangan kehadapan Ida Hyang Segara di pelinggih tersebut.

Saking tekunnya, didasarkan atas keikhlasan dan kejujurannya, pada suatu hari tatkala melakukan persembahyangan, tiba-tiba datang mega (awan) yang memancarkan sinar serta didengarnya ada şuara “Sabda” yang datang dari luwuring mega (diatas awan). İnti sari dari “Sabda” tersebut kira-kira seperti ini.

“IH KITA NARA TUHU, JATI NIRA, MANUNGGAL KANG SABDA NGUNI RI TEJA DUKING JALADI NULUR TEMU KILAT ALIT, SATMA RİNG PUTRI NIRA DANG HYANG DWIJENDRA SANG MANGARAN PATM KENITEN, RI SEKALA SANGHYANG SARASWATI”

                Batu karang, tempat Pan Santeng mendirikan pelinggih, dahulunya merupakan tempat Ida Brahma Putri dari Patni Keniten meparab “IDA AYU NGURAH SARASWATI SWABHAWA” ke – ambil ring Ida Betam Baruna saking pemargin kilat, tatit sane niben Ida mangda marisidayang masikian sareng tabik pakulun, Ida Dang Hyang Dwijendra

                Semua yang dialami oleh Pan Santeng diceritakan kepada saudara saudaranya di desa. Namım ada yang percaya dan ada yang tidak percaya. Akhirnya timbul keinginan “manangkil” (menghadap) Ida Pedanda Alangkajeng. Apa yang didengarnya, disampaikan kehadapan Ida Pedanda dan Idapun pada saat itu kepada I Santeng berujar :

“Oh kamu Santeng, tuhu kadi kapwa pratyaksa numana warahing suksema yogya sapratista saupacara ghrahasta lingga makhawanang manggih suka sekala

Demikianlah inti sari dari Rontal Prasasti yang ada di Pura Luhur Candi Narrnada Tanah Kilap. Kemudian dalam perkembangan dan memperhatikan eksistensi keberadaan Pura Parahyangan lda Ratu Niyang Ngurah, karena semakin banyaknya para bhakta yang memedek, selaras dengan kedudukan dan fungsinya sebagai tempat suci untuk memohon kemakmuran, kesejahteraan, kebahagiaan dan kerahayuan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Maka berdasarkan tuntunan dari Ida Pedanda Gde Ngurah Bajing dari Griya Gede Bajing Kesiman Denpasar Timur, serta atas kesepakatan dari para bhakta dan pengayah, berkat ‘Danakarma” yang terkumpul, berhasil didirikan Parahyangan Ida Ratu Niyang Ngurah serta melaksanakan Karya Agung Memungkah Pemelaspas, Ngenteg Linggih lan Dirghayusa Bhumi pada tahun 1997. Dan pada saat itu, Pepasih lan Pengayatan Ida Batari Ida Ratu Niyang Ngurah ka-bhiseka : “IDA RATU BHETARI NIHANG CAKTI”.

             Tidak sampai disana saja, sebagai wujud bakti dan rasa syukur atas Ware Nugraha Ida Batara yang berstana di Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap maka setiap PURNAMA KASA PUJAWALI IDA BATARA bisa dilaksanakan dengan baik, dengan tingkat agung alit tatanan upakara yang dipersembahkan setiap hitunga 1 tahun 5 tahun10 tahun 15 tahun.

Menginjak masa 20 tahun, pada tahun 2017 Prejuru Penyanggra (istilah Pengrus/Pengempon Pura) dengan umat pengayah melaksanakan Karya Pedudusan Agung, sebagai bakti kepada Beliau yang distanakan di Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap. Dengan Menghaturkan Upakara Tawur Balik Sumpah lan Pedusan Agung dengan segala runutannya sesuai dengan apa yang menjadi kesepakatan dalam Paruman Ida Pedanda yang memang dari awal terlibat dalam cikal bakal berdirinya Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap tersebut.

Jajar kemiri dan laiinya akan penulis sambung dalam posting yang akan datang, tentunya dengan hal-hal yang mungkin menjadi bagian khusus tentang bagaimana Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap dengan Ida Bhetari Nihang Sakti sebagai Pemucuk, bagaimana dengan Keberadaan Pelinggih lainnya.

Spanduk BTCClicks.com

KARMA TAN PEPALA AKU PALANIA – NGULATI TIKEH MAS – TARU WANA SARWA GUNA.

LEPAS DARI JERAT FILSAFAT

Kini sistem berada pada logika. Logos. Dari kata logike. Rasio. Biologi, logos tentang tubuh. Logika tentang badan. Ekonomi, logika tentang ‘oikos’. Bukan ilmu. Logos berbeda dengan ilmu. Apa itu ilmu? Asal katanya dari bahasa Arab. ‘A la ma’, artinya tanda-tanda. Berilmu berarti yang pandai membaca tanda-tanda. Tanda-tanda tentang kekuasaan Allah Subhanahuwataala. Itulah ilmu. Jadi biologi, bukan bermakna ‘ilmu tentang tubuh’. Tapi logika tentang tubuh. Ekonomi juga bukan ilmu oikos. Tapi rasio tentang oikos.

Shaykh Abdalqadir as sufi berkata, ilmu berbeda dengan informasi. Jadi ilmu itu bersifat laduni. Ilmu yang datang dari langit. Ilmu itu tentang hakekat kebenaran. Hakiki. Sementara perihal diluar ilmu, itu bersifat informasi. Universitas kini, bukan mengajarkan ilmu. Tapi tentang informasi.

Karena manusia terdiri dari jiwa dan dhahir. Jiwa itulah batiniah. Dhahir itulah lahiriah. Lahir dan batin. Era kini, jamak perihal batiniah menjadi sirna. Parameter segala pondasi, diambil dari titik lahiriah. Titik logika. Inilah yang menghasilkan sistem hukum…

View original post 1,886 more words