Dunia Selepas Virus Corona

STAR GLAM MAGAZINE

oleh Yuval Noah Harari

Diterjemahkan dari Yuval Noah Harari: the world after coronavirus

Penerjemah: Prima Sulistya

f9f89970-6a11-11ea-a6ac-9122541af204(Photo: Ft.com/© Graziano Panfili)

Umat manusia kini menghadapi krisis global. Bisa jadi krisis terbesar di generasi kita. Keputusan individu dan para pemerintah beberapa minggu ke depan mungkin akan membentuk bagaimana dunia di tahun-tahun mendatang. Mereka akan membentuk bukan hanya sistem kesehatan kita, melainkan juga ekonomi, politik, dan budaya kita. Kita harus bertindak cepat dan yakin. Kita juga harus menimbang akibat jangka panjang dari tindakan saat ini. Ketika memilih jalan keluar yang mana, kita harus bertanya ke diri sendiri bukan hanya bagaimana ancaman saat ini, melainkan juga dunia macam apa yang ingin kita huni selepas badai ini berlalu. Ya, badai pasti berlalu, umat manusia akan bertahan, sebagian besar dari kita akan tetap hidup—tapi kita akan tinggal dunia yang telah berbeda.

Akan ada langkah mengatasi kedaruratan yang menjadi bekal hidup selanjutnya. Itulah watak kedaruratan. Mereka mempercepat…

View original post 2,336 more words

Belajar Bersyukur dan Melihat Kebaikan di Balik Setiap Situasi

rawanda.blog

Photo from Pixabay

Hidup sederhana dan menjalankan kebajikan itu bukan teori belaka. Saya beruntung menyaksikan contoh nyata di lingkungan keluarga terdekat saya. Jauh sebelum saya belajar tentang psikologi, filsafat serta agama, ayah saya Johanes Albert Tuturoong (22 Februari 1942 – 3 November 2010) telah menjalani kehidupan yang sederhana. Sampai akhir hayatnya.

Sepengetahuan saya, ia tidak pernah belajar filsafat secara formal. Tapi, tiga prinsip yang ia terapkan dalam hidupnya adalah: menjunjung tinggi etika, selalu bersyukur dengan melihat kebaikan di balik setiap situasi, dan mengoptimalkan peluang apapun yang tersedia di hadapannya.

Mirip betul dengan Stoikisme, yang diperkenalkan para bijak seperti Marcus Aurelius, Seneca dan Epictetus, ribuan tahun yang lampau. Dichotomy of control atau pemilahan kendali – yaitu hanya fokus pada hal-hal yang mungkin kita kendalikan dan tak perlu pusing dengan hasil yang tak bisa kita kendalikan – benar-benar dipraktekkannya.

Mengawali karir sebagai guru, ia pensiun sebagai bankir profesional di tahun 1997…

View original post 1,398 more words

Strategi Paling Jitu Meningkatkan Mutu Demokrasi adalah Memperluas Penggunaan Ilmu Pengetahuan

rawanda.blog

Photo by Johnhain from Pixabay

Ada sebuah riset menarik yang dilakukan Profesor David Dunning, psikolog dari Cornell University beberapa tahun lalu. Ia menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak kompeten pada dasarnya tak mampu menilai kompetensi orang lain atau kualitas dari ide-ide orang lain.

Menurut Profesor Dunning, “Ide-ide yang sangat cemerlang akan sulit untuk diterima banyak orang, sebab umumnya publik tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui betapa baik sebuah gagasan.”

Kaitkan hal ini dengan demokrasi pada hari ini, maka kita akan menjadi maklum menyaksikan betapa proses politik, di berbagai tempat, belum dapat menghasilkan para pemimpin yang mampu menciptakan perdamaian dunia.

Lebih jauh, Profesor Dunning dan koleganya, Profesor Justin Kruger, menyimpulkan bahwa kebanyakan orang menganggap kemampuan intelektualnya berada di atas rata-rata. Hal ini mereka temukan ketika menguji kemampuan sejumlah orang dalam menilai kelucuan sebuah humor, ketepatan tata bahasa dan bahkan kehandalannya bermain catur.

Bahkan, orang-orang yang kemampuannya di level paling bawah pun menganggap…

View original post 313 more words

Belajar dari Keluarga Medici: Bagaimana Menciptakan Lingkungan yang Progresif?

rawanda.blog

Photo bay David Mark from Pixabay

Lingkungan membentuk kita menjadi “ahli” dalam segala hal. Negatif maupun positif. Jagoan atau bajingan.

Sewaktu mendekam di Rumah Tahanan Salemba karena “kenakalan mahasiswa” di masa Orde Baru, saya perhatikan, seorang maling bisa naik kelas menjadi perampok, karena mendapatkan mentor di lingkungan penjara. Ketika kelak dia tertangkap lagi, selain tatonya bertambah banyak, pasal yang dilanggar bukan lagi 362 atau 363 KUHP, tapi sudah jadi 365 KUHP. Statusnya sudah lebih terhormat…

Di lingkungan penjara tentu saja.

Hal yang saya anggap paling berharga di dunia kampus sesungguhnya adalah lingkungan yang mendorong kami untuk belajar berbagai macam pengetahuan dan skill serta mengembangkan jaringan. Dari seorang introvert yang terlalu gugup untuk menyampaikan pendapat di depan kelas sewaktu SMA, saya dipaksa para senior untuk jadi moderator dan bahkan pembicara dalam berbagai kegiatan mahasiswa.

Catalin Matei dalam artikel “How The Environment Shapes Us” berpandangan bahwa lingkungan bahkan berpengaruh lebih besar pada…

View original post 1,011 more words

Covid-19 dan Bagaimana Seharusnya Menghadapi Ketakutan

rawanda.blog

Pic by Gerd Altmann from Pixabay

Wabah sedang menuju Damaskus dan melewati suatu kafilah di padang gurun.

“Mau ke mana, begitu tergesa-gesa?” tanya kepala kafilah.

“Ke Damaskus. Saya mau merenggut seribu nyawa.”

Sekembalinya dari Damaskus, Wabah itu bertemu lagi dengan kafilah itu. Kepala kafilah berkata, “Engkau merenggut 50.000 nyawa, bukan hanya 1.000.”

“Tidak” kata Wabah. “Saya hanya mengambil seribu. Yang lain disebabkan oleh ketakutan.”

(Dikutip dari “Doa Sang Katak 2, Meditasi dengan Cerita”, karya Anthony de Mello, SJ, Penerbit Kanisius, 1990)

Apa yang kita lihat sebagai dampak dari ketakutan akibat Covid-19 akhir-akhir ini mirip dengan parabel tentang “Wabah” di atas. Bedanya, korban jiwanya tidak berlipat ganda sebagaimana di Damaskus. Tapi dampak ekonomi yang terjadi saat ini, jika terus berlanjut, bisa berakhir fatal.

Seperti diberitakan The Guardian, wabah Covid-19 telah menyebabkan pembalikan tercepat pasar saham sejak Great Depression tahun 1933. Wall Street terjungkal dari rekor tertinggi ke titik terendah sejak…

View original post 1,812 more words