Belajar dari Keluarga Medici: Bagaimana Menciptakan Lingkungan yang Progresif?

rawanda.blog

Photo bay David Mark from Pixabay

Lingkungan membentuk kita menjadi “ahli” dalam segala hal. Negatif maupun positif. Jagoan atau bajingan.

Sewaktu mendekam di Rumah Tahanan Salemba karena “kenakalan mahasiswa” di masa Orde Baru, saya perhatikan, seorang maling bisa naik kelas menjadi perampok, karena mendapatkan mentor di lingkungan penjara. Ketika kelak dia tertangkap lagi, selain tatonya bertambah banyak, pasal yang dilanggar bukan lagi 362 atau 363 KUHP, tapi sudah jadi 365 KUHP. Statusnya sudah lebih terhormat…

Di lingkungan penjara tentu saja.

Hal yang saya anggap paling berharga di dunia kampus sesungguhnya adalah lingkungan yang mendorong kami untuk belajar berbagai macam pengetahuan dan skill serta mengembangkan jaringan. Dari seorang introvert yang terlalu gugup untuk menyampaikan pendapat di depan kelas sewaktu SMA, saya dipaksa para senior untuk jadi moderator dan bahkan pembicara dalam berbagai kegiatan mahasiswa.

Catalin Matei dalam artikel “How The Environment Shapes Us” berpandangan bahwa lingkungan bahkan berpengaruh lebih besar pada…

View original post 1,011 more words

Covid-19 dan Bagaimana Seharusnya Menghadapi Ketakutan

rawanda.blog

Pic by Gerd Altmann from Pixabay

Wabah sedang menuju Damaskus dan melewati suatu kafilah di padang gurun.

“Mau ke mana, begitu tergesa-gesa?” tanya kepala kafilah.

“Ke Damaskus. Saya mau merenggut seribu nyawa.”

Sekembalinya dari Damaskus, Wabah itu bertemu lagi dengan kafilah itu. Kepala kafilah berkata, “Engkau merenggut 50.000 nyawa, bukan hanya 1.000.”

“Tidak” kata Wabah. “Saya hanya mengambil seribu. Yang lain disebabkan oleh ketakutan.”

(Dikutip dari “Doa Sang Katak 2, Meditasi dengan Cerita”, karya Anthony de Mello, SJ, Penerbit Kanisius, 1990)

Apa yang kita lihat sebagai dampak dari ketakutan akibat Covid-19 akhir-akhir ini mirip dengan parabel tentang “Wabah” di atas. Bedanya, korban jiwanya tidak berlipat ganda sebagaimana di Damaskus. Tapi dampak ekonomi yang terjadi saat ini, jika terus berlanjut, bisa berakhir fatal.

Seperti diberitakan The Guardian, wabah Covid-19 telah menyebabkan pembalikan tercepat pasar saham sejak Great Depression tahun 1933. Wall Street terjungkal dari rekor tertinggi ke titik terendah sejak…

View original post 1,812 more words

Kebebasan Diri

Perjalanan Cinta

Wahai saudaraku. Siapakah yang hidup di dunia ini yang tak menginginkan kebebasan? Siapa yang tidak suka dengan hal itu? Tentulah semuanya mau, hanya saja masalahnya apakah seseorang itu sudah benar-benar merasakan kebebasan dalam hidupnya. Atau justru sebenarnya ia tak pernah merasakan kebebasan meskipun tidak hidup dalam masa penjajahan. Dan sesungguhnya kebebasan itu tidak hanya sekedar pemberian dari Sang Pencipta, tetapi lebih kepada pencapaian yang harus diraih oleh setiap pribadi dalam hidupnya.

View original post 895 more words

Jangan Bersedih

Perjalanan Cinta

“Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman” (QS. Al-Hijr: 88)

View original post 1,157 more words

Kesucian Politik: Agama dan Politik Di Tengah Krisis Kemanusiaan

Perjalanan Cinta

Penulis: P. Mutiara Andalas, SJ; Penerbit: Libri

Bulan Mei merupakan bulan yang bersejarah bagi rakyat Indonesia. Sejarah yang “cerah” dan sejarah yang “kelam”. Sejarah yang cerah mengimplikasikan suatu momentum historis yang membawa rakyat Indonesia ke suatu paradigma kebangsaan yang baru – sebuah cara pandang bermartabat terhadap nasionnya sendiri. Itulah yang kemudian kita peringati sebagai momentum kebangkitan nasional setiap 20 Mei. Tahun 2008 momentum kebangkitan nasional diperingati dalam kurun 100 tahun (1908-2008).

View original post 660 more words