PENGUJI UTAMA ADALAH ALAM SAMESTA

SKEMA BERPIKIR LOGIS UTK MENCAPAI KEMAHA KUASAAN
Menelaah kehakekatan dalam Kuasa sebagaimana kesepahaman
TUHAN adalah Kata atas wujud yang diwujudkan sebagai Wujud yang di PERCAYA DAN YAKINI, sebagai WUJUD yang tepat untuk disembah dan tempat meminta dalam apapupun itu sebagaimana tertuang dalam lapisan Budaya / Agama sebagai Dogma berkehidupan. kata itu tidak akan asing bagi manusia yg memiliki budaya BERTUHAN.

BERPIKIR LOGIS UTK MENCAPAI KEMAHA KUASAAN

Menyebarkan sebagai bagian proses Menyempurnakan sebuah ajaran dengan bersama-sama menjaga Kesepahaman akan Pencermatan Logis, mengedepankan Kebersamaan, Kepekaan,  Kaweruhanan, dan Lakuning  Hidup dalam Penciptaan Olah Pikiran sebagai hal berkaitan dengan adanya BUDAYA BERTUHAN.

TUHAN Yang Kita Yakini dan Percaya adanya Karena apa ?????
(sane mejanten boya sangkangkaning “Mule Keto”)
“Budaya BERTUHAN ?/// ” =YA= karena kita harus meyepakati bahwa ada Komunitas yang
KOMUNITAS ITU DISEBUT KAUM ATHEIS. Apakah prinsip budaya YANG TIDAK berTuhan itu salah ? JAWABAN SECARA UNIVERSAL APAKAH SALAH ATAU BENAR YAITU JAWABAN “TIDAK TAHU” , karena kita bukan sebagai “HAKIM KEHIDUPAN”. Tetapi jika KOMUNITAAS ATHEIS hidup di BUMI NUSANTARA …MAKA KAUM ATHEIS “DILARANG HIDUP” sebab itu tdk sesuai dg BUDAYA BANGSA INDONESIA YG “BERKETUHANAN YG MAHA ESA”.
KEGIGIHAN adalah salah satu parameter diantara sekian banyaknya yang dijadikan dasar untuk menilai dan memberikan penilaian, karena ketika menilai pemahaman akan ASPEK KEBERSAMAAN harus jelas Paham dimaksud adalah BERSAMA bukan SAMA.

INI ADALAH ASPEK DALAM MEMAHAMI ketika sebagai KUASA KEMAHAKUASAAN  adalah DIKUASAKAN PENGUASANYA, BUKAN SERTA MERTA MENJADI PENGUASA ATAS KUASA ITU.

ingat sebagai Kuasa bukan Penguasa atas Kuasa ……….

(lawong cuman dadi manuso kok iso ngakune Tuhan, betul lek ra ono kon, Tuhan ya ra ono)

(Penting sing diingat…. manuso siji iku mbe manuso siji iku bedo, SOPO SING NGOMONG MANUSO IKU  PODO, wong metune duwe tetenger bedo, opo Matimu podo, Bedo toh ?. lek ono wong mokso Jare Manuso iku Podo, percoyo mbe aku, iku manuso Keblinger Takut Bayanganne Dewe )

Pembahasan Manuso Bedo boten Podo next time kupasannya.

Jika kita menggunakan pemahaman standart, maka kita akan terjebak pada dogma budaya, yang dalam terjemahanya adalah mengarahkan kita untuk selalu berkata dengan menjelaskan atau menjawab dengan “Katanya”, padahal olahan Dogma budaya yang berakar adalah suatu keyakinan atas Kuasa Penguasa Kemahakuasaan, Dalam Pemahaman kita secara Universel Menyebut dan Namakan “T U H A N “.

TUHAN sebagai wujud yang kita Wujudkan, di Wujudkan Wujudnya sebagai tempat memohon, meminta dan menyampaikan keluh kesah dan apa yang kita harus lakukan  dalam pencapain  NIKMAT BUKAN  SEBATAS KENIKMATAN SEBAGAI TUJUAN.

NIKMAT ADALAH BAGIAN UTAMA DALAM PENCAPAIAN TUJUAN SEBAGAI MANUSIA DENGAN AKAL DAN PIKIRANNYA SEDANGKAN KENIKMATAN ADALAH BAGIAN TERPENGGAL DALAM PENCAPAIAN NIKMAT AKIBAT PEMBATASAN PIKIRAN TANPA DASAR AKAL, LEBIH DOMINAN DIPENGARUHI OLEH NAFSU (ZAT HEWAN)

Kita diberi akal utk mengembangkan dari yang stadart ke yang lebih dari standart, tentunya semua adalah ditentukan sejauh mana kemampuan mengolah Pikiran dan menjadikan akal adalah bagian penting pencapaian Nikmat tersebut.

Yakini bahwa pengolahan Pikiran tersebut sangat dipengaruhi oleh Alam, kenapa ? karena unsur zat alam sama dengan unsur zat manusia,  sehingga ketika segala unsur yang terkandung dalam alam menyatu dan selaras dengan apa yang ada dalam diri manusia maka semua akan mengalami perubahan yang positif.

Jadikanklah Dogma Budayamu sebagai Baju dan Akal Pikiranmu sebagai Jiwa atau Roh, sehingga Keyakinan akan terwujud dalam koridor manusia yang berbudaya, Jikalau manusia tersbut terlahir dan hidup di Indonesia (Warga Negara Indonesia) maka wajib dan pastinya dia akan menjadi Manusia Yang Berbudaya Nusantara, Bukan Manusia yang berbudaya Luar Indonesia, dan bukan dengan bangga berkata sebagai Manusia Indonesia tetapi berbudaya Luar Indonesia.

CARAKA NUSANTARA DALAM PENGAKUAN DAN ABHISEKA

GARUDA PANCASILA ADALAH AHLAK BERKEHIDUPAN DI INDONESIA

Advertisements